Sabtu, 18 Juni 2016

KUMPULAN PUISI BULAN JUNI (2) Karya Ki Slamet 42

Blog Sita : Sastra Nusantara
Minggu, 19 Juni 2016 - 09:32 WIB

Image "Kisah Adam dan Hawa"
Kisah Adam & Hawa

“KISAH MANUSIA PERTAMA ADAM DAN HAWA”

Karya : Ki Slamet 42

Terkisahlah Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa
Diturunkan Tuhan ke dunia dari  Swargaloka
Sebab konsumsi buah khuldi yang sebelumnya
Tuhan telah peringati agar tidak memakannya
Tetapi mereka berdua tetap saja melanggarnya

Adam dan Hawa tergoda rayuan Iblis durjana
Yang tak menyadari itu suatu jerat mencelaka
Agar mereka tak bisa hidup kekal dalam sorga
Kehidupan penuh kenikmatan kekal selamanya
Sebab itu, Iblis, Adam, Hawa terima akibatnya

Maka, mereka diturunkan Tuhan ke bumi loka
Kembara di alam fana hidup penuhlah sengsara
Konon kisah Adam diturunkan di tanah Hindia
Sedang Siti Hawa diturunkan di jazirah Arabia
Iblis jadi penggoda manusia  agar berbuat dosa

Di bumi,  Adam terus berkelana cari Siti Hawa
Siti Hawa, cari Adam tak kenal lelah putus asa
Berbagai macam rintangan, derita, mara bahaya
Mereka  hadapi  dengan penuh  ketabahan jiwa
Hingga Tuhan mempertemukan mereka berdua

Kononlah kisah di Padang Arafah Adam Hawa
Dipertemukan lagi oleh Tuhan Maha Pencipta
Setelah empat puluh tahun lamanya tak jumpa
Nampak Adam dan Hawa saling bertatap mata
Lalu saling lepas rindu, dunia jadi milik mereka

Mereka pun  tinggal menetap  di dalam gua-gua
Di sekitar daerah padang Arafahlah tempatnya
Berbekal ilmu,  alam sekitar pun  mereka kelola
Mengolah lahan berburu hewan di hutan rimba
Miliki anak Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda

Referensi:
Bahrun Rahimsyah, "Memetik Hikmah Dari
Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul 


 Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 19 Juni 2016 – 03:36 WIB


“KETIKA DIGELUT PIKIRAN KALUT”

Karya : Ki Slamet 42

Segala masalah  yang merunut saling berpaut
Di  sudut dalam kepalaku  masih tersangkut
Belumlah bisa kucabut meski gunakan catut
Bergerigi strategi tinggi  yang kuambil juput
Dari  referensi psikologi acu negeri bersalut
Tetapi malah kian lebar menyebar semerawut

Atma pikiranku terasa semakin carut marut
Ketika  datang masalah baru yang menuntut
Agar hasil kerja bagus jangan nampak butut
Karena tuntutan profesi yang harus diturut
Tak usah basa-basi berdalih kata berbuntut
Hanya karena  untuk menutupi segala kalut

Problem ekonomi keluarga yang makin susut
Yang juga mesti diatasi dengan secara patut
Tambah pikiranku  makin digeluti rasa kalut
Membuat jiwa dan ragaku  rasakan semaput
Seketika muncul putus asa coba menggerut
Mengajakku melakukan perbuatan pengecut

Ketika pikiran kalut itu masih saja menggelut
Sementara solusi tak ada lagi bisa kurenggut
Yang membuat jiwa dan ragaku rasa semaput
Ada cahaya asa  menerangi hatiku yang kalut
Mengajakku tengadah  ke Zat Maha Absolut
Penguasa seluruh alam tempat segala berpaut



Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 18 Juni 2016 – 08:19 WIB

    
KEPAK SANG KELELAWAR  LAPAR
Karya: Ki Slamet 42

Dan aku pun gempitakan malam nan sunyi kelam
Lewat kidung geliat jiwa bagjaan yang tenggelam
Sendu nan mendayu digendong sang bayu malam
Berhembus garang hingga kelewar pun jadi geram
Karena tiada lagi buah-buah ranum bisa digayam

Kelelawar risih berbalut lapar yang terus diredam
rasa lapar terus saja semakin kuat mencengkeram
Sementara atmaku menggerayang di perut malam
Mencari solusi yang belum teratasi berputar siam
Menggelinding di jalan nan terjal  berkerikil tajam

Maka segala keinginan yang masih saja terpendam
Di dasar lubuk jiwa nan hitam kelam paling dalam
Tiada tersembul ke permukaan cahayanya padam
Tersiram tirta  suci perwitasari  sirna rasa geram
Munculkan ketenangan meskipun cita-cita karam

Kelelawar yang masih dibalut lapar bersayap hitam
Terus saja terbang berputar-putar tiada mau diam
Di antara pepohonan yang daunnya mulai bersenam
Bagaikan jari jemari nan lembut  sang puteri malam
Berlenggak-lenggok gemulai  jerat kuat kaum Adam

Dan sang atma ajak kakiku berjalan kembara di alam
Yang tiada berdimensi cuma berupa hamparan hitam
Hingga kurasakan nyeri di kaki wajahku merah padam
Menahan lelah yang berkepanjangan di malam kelam
Bangunkan sadarkan aku dari mimpi di waktu malam

Halim Perdanakusuma
Kamis, 16 Juni 2016 – 09:20 WIB

     
“BE VERSI SOSOK SRIKANDI”

Karya : Ki Slamet 42

Ada cerita tentang tokoh wayang Srikandi
Piturut wiracarita Mahabharata dari Hindi
Wanita nan pemberani berperilaku laki-laki
Bersuka wanita nan juga berperangai banci
Nikahi seorang puteri yang tahunya ia lelaki

Ketika sang putri tahu siapakah sang suami
Dia berang bukan kepalang  Srikandi dimaki
Betapa amat malu  dan terhinanya Srikandi
Ia keluar dari kamar berlari ingin bunuh diri
Putus asa hati sakit rasa tiadakan terobati

Dalam duka nestapa dan sakit tiada terperi
Beruntung ada seorang lelaki yang baik hati
Mau menikah dengan Srikandi sepenuh hati
Dan mereka berdua sepakat bersuami isteri
Meski bertukar kelamin harus mereka jalani

Tapi piturut versi wiracarita wayang Jawani
Dia, Srikandi betul asli seorang puteri sejati
Puteri dari  Prabu Drupada dan Gandawati
Yang konon tercipta dari  api puja dan puji
Saat lahir  telah genggam busur panah sakti

Dalam perjalanan waktu  puteri Pancala ini
Tumbuh menjadi gadis lincah kenes geregeti
Ketika ia belajar manah sang guru jatuh hati
Begitulah jua Srikandi cinta mereka bersemi
Gurunya sang Arjuna sunting jadikan ia istri

Maka  Srikandi diboyong  Arjuna sang suami
Ke Ksatriaan Madukara tinggallah sami-sami
Isteri Arjuna lainnya Sumbadra dan Larasati
Kemampuan memanah yang begitu mumpuni
Buatlah ia  dipercaya jadi Ksatriaan sekuriti

Di perang Bharatayuda Srikandi jadi Senopati
Ia berhasil bunuh Bhisma  dengan panah sakti
Meski semua itu atas kemauan Bhisma sendiri
Sebab di wajah Srikandi muncul  Amba Dewi
Wanita yang tewas dibunuh sang Bhisma Resi

Tapi  Srikandi pun bernasib tragis  tewas mati
Dibunuh Aswatama putera terkasih sang Resi
Yang menyelinap ke kemah Srikandi malam hari
Selepas kecamuknya perang Bharatayuda usai
Yang membuat berang dan dendam sang suami


Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 12 Juni 2016 – 09:33 WIB


 “DUSTA SANG PUNTADEWA“
Karya : Ki Slamet 42

Adalah dikenal dalam cerita wayang  sosok Puntadewa
Titisan Dewa Darma  lebih dikenal bernama Yudhistira
Anak tertua dari Pandu Dewanata dan Kuntinalibrata
Bersaudara empat  Bima  Arjuna  Nakula  dan Sadewa
Bersifat penyabar  bersih  jujur  tiada pernah berdusta

Puntadewa tak pernah berprasangka dan selalu percaya
Manusia miliki hati baik yang terpancar dari perangainya
Oleh karenanya ia mudah ditipu ketika sang Duryudana
Anak tertua Destrarata menantang judi dia meladeninya
Meskipun judi itu bertaruh harta negara bahkan istrinya

Dalam perjudian yang penuh tipu muslihat keji Sangkuni
Puntadewa terus alami kekalahan  tapi semakin lupa diri
Padahal istri dan keempat saudaranya berulang nasehati
Akan tetapi  Puntadewa sama sekali tak maulah perduli
Dan ia teruslah kalah  tak pernah menang dalam berjudi

Maka satu persatu semua harta yang dimilikinya amblas
Bahkan terakhir  sang istri tercinta  Drupadi pun lepas
Sungguhlah malang sungguh ia betapalah bernasib naas
Drupadi dipermalui  ditelanjangi  Dursasana yang ganas
Di muka di mata banyak orang yang menatapnya waswas

Puntadewa dan keempat adiknya cuma menatap selayang
Sang Bima si pemberang tiba-tiba saja melompatlah garang
Saksikan sendiri Drupadi diperlakukan sewenang-wenang
Puntadewa pun redam amarah Bima  yang alang kepalang
Bima bersumpah hirup darah Dursasana di medan perang

Puntadewa pun  menerima saja kekalahan  dengan legawa
Sesuai kesepakatan taruhan judi yang dimainkan bersama
Antara Puntadewa Pandawalima dan Duryudana Kurawa
Meski permainan judi itu hanya muslihat penuh tipu daya
Puntadewa  ikhlas serahkan segala harta  yang dimilikinya

Puntadewa bersama-sama keluarga dan empat saudaranya
Yang tiada lagi berpunya  mengembara  di rimba belantara
Selama dua belas tahun mereka jalani dipenuhi suka duka
Di sepanjang hidupnya Puntadewa tiada pernah berdusta
Tapi dua kali terpedaya  karena judi dan terbujuk Kresna

Suatu ketika di saat berlangsungnya perang Bharatayuda
Pandawa melawan Kurawa yang dipanglimai  sang  Dorna
Yang pada waktu itu mendengar berita bahwa Aswatama
Putera terkasih telah gugur perlaya di medan Kuru setra
Bertanyalah ia kepada Puntadewa yang tak pernah dusta

Betara Kresna si ahli siasat perang membujuk Puntadewa
Agar mau menjawab iya  karena memang demikialah fakta
Tapi yang dimaksud gugur bukan  Aswatama anak Dorna
Melainkan  gajah bernama  Aswatama yang dibunuh Bima
Sebab kelemahan Dorna  ada pada puteranya  Aswatama

Mendengar benar puteranya tewas dari orang dipercaya
Hilanglah seketika semangat berperang Begawan Dorna
Ia pun terjatuh lunglai duduk di atas kereta perangnya
Maka  sirna digdaya tewaslah ia dibunuh Drestajumena
Panglima perang Pandawa yang cepat melepas panahnya

Konon cerita sekali itu saja sang Puntadewa Yudhistira
Rasa bersalah dusta  itu pun atas saran dari Sri Kresna
Jika tak melakukan itu  pasukannya yang tiada berdaya
Akan semakin lemah dan kalah dibasmi begawan Dorna
Dengan panahnya yang banyak bunuh prajurit Pandawa

Bumi Pangarakan, Bogor
Selasa, 07 Juni 2016 – 06:15 WIB
 

Minggu, 05 Juni 2016

KUMPULAN PUISI BULAN JUNI (1) KARYA KI SLAMET 42

Blog Sita : "Sastra Nusantara"
Senin, 06 Juni 2016 - 02:30 WIB

Image "Antara Kau dan Aku Sama" (Foto: SP)
Antara Kau dan Aku Sama

“ANTARA KAU DAN AKU SAMA”
Karya : Ki Slamet 42

Kau dan aku juga aku dan kau sama
Aku dan kau adalah satu dalam dua
Kau dan aku menyatu dalam meraga
Kau dan aku menyatu dalam menjiwa
Kau dan aku  menyatu dalam merasa
Kau dan aku menyatu dalam beratma

 Allah Allah Allah Allah saja yang bisa
Pisahkan atau tetap menyatukan kita
Di alam fana semoga jua di alam baqa
Di  keikhlasan memberi dan menerima
Di  keikhlasan memohon dan meminta
Kita hanya bisa mengharap Ridha’Nya

Meski isi alam ini  penuh warna-warna
Hitam dan putih  yang lebih  menjelma
Mawujud dalam bentuk harmoni irama
Laksana keindahan untaian nada-nada
Yang dimainkan sepenuh curahan jiwa
Walau nampak kontra tapi berestetika

Kita jalani hidup seperti apalah adanya
Sebagaimana garis-garis kehidupan kita
Sketsa terlukis di atas kanvas semesta
Hitam putih  biru kuning merah  jingga
Atau pun campuran dari warna-warna
Allah juga yang tentukan jelek bagusnya
 
Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 04 Juni 2016 – 06:52 WIB


Image "Tebing Longsor Ngegelosor" (Foto: SP)
Tebingan Longsor Ngegelosor


“TEBING ITU LONGSOR NGEGELOSOR”
Karya : Ki Slamet 42

Minggu malam  tiga  April  dua ribu enam belas
Cibubur  dan  sekitarnya  diguyur  hujan deras
Stukrur tanah  nan labil  makin labil mengganas
Tebingan  yang tak punya turap penahan  lemas
Buat tebingan  tinggi sepuluh meter itu amblas
Bunyi suaranya  riuh bergemuruh  sangat keras

Di Gang Salak, Cipayung, dan Pondok Ranggon
Tempat masyarakat setempat ngendon manggon
Warganya masih banyak yang tidur pulas jongjon
Cuaca nan dingin buatlah mereka asyik berkelon
Banyak yang terjaga tapi sedang asyik menonton
Film  sex  di media elektronik mereka yang di on

Saat banjir mulai melanda rumah-rumah mereka
Mereka baru sadar  bangun terjaga melek mata
Bahwa  ada tebingan longsor  di daerah mereka
Andi seorang warga Gang Salak cepatlah segera
Dia berinisiatif  pasang papan berita secepatnya
Beri tahu warga  agar berhati-hati dan waspada

Lurah Pondok Ranggon, Mahpuz MZ berkata :
“Pihaknya segera akan tinjau ke lokasi longsornya
Untuk berkoordinasi dengan Sudin Bina Marga,
Bagaimana kondisinya, apakah memang perlu juga
Dibuatkan turap baru atau adakah solusi lainnya
Agar tidak ada lagi longsor susulan landa warga?”
  
Referensi Puisi :
Radar Bogor edisi Selasa, 5 April 2016

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 04 Juni 2016 – 06:52 WIB


Image "Perempuan Jablai" (Foto: Google)
Perempuan Jablai


“NGARUMPI JABLAI”
Karya: Ki Slamet 42

Terkisahlah perempuan muda nan cantik rupa
Dari Desa Sukamakmur  dia hijrahlah ke kota
Terbujuk  tergiur  tutur lamis manis tetangga
Imingi hidup penuh dengan kemewahan dunia

Dia sudah dua warsa hidup sendiri menjanda
Ditinggal pergi suami mati ketika celaka kerja
Di  negeri nan makmur sentosa  Saudi Arabia
Sunyi hati sepi jiwa sepi raga buat dia tergoda

Kini jadilah dia perempuan jablai penjaja cinta
Berhias di keremangan malam  sudut Jakarta
Menjaring mangsa  si hidung belang haus rasa
Yang di rumah padahal istri lebih cantik jelita

Terus gumul kembara di alam sutra dewangga
Bergaul akrab kesenangan pemuas sex dahaga
Dan tiadalah terasa sudahlah dua dasa warsa
Ia bergumul dosa-dosa hingga Tuhan beri bala

Hidup dalam kemewahan dia telah memilikinya
Namun  penyakit aids yang belum ada obatnya
Telah renggut cabut nyawanya dalam seketika
Begitu tragis akhir hayat si jablai penjaja cinta

Bumi Pangarakan, Bogor
Jumat, 03 Juni 2016 – 17:20 WIB