Minggu, 19 Agustus 2018

Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat : "SUNGGUH TAK TAHU DIRI"

Blog Sita "NINA BOBO"
Minggu, 19 Agustus 2018 - 17:20

Image "Raja Pugpeg Mame (Foto : SP)
Pupeg Mame
“SUNGGUH TAK TAHU DIRI”
(Cerita Rakyat Nusatenggara Barat)

Konon cerita, dahulu kala di Lombok, Nusa Tenggara Barat, hiduplah seorang raja. Baginda memiliki sepasang lelampak (sandal) yang terbuat dari lendong kao (kulit kerbau). Sandal kanan terbuat dari kulit kerbau jantan sedangkan sandal kiri terbuat dari kerbau betina.

Kedua sandal itu merupakan sepasang suami istri. Sang suami disebut Papug mame (nenek laki-laki), sedang sang istri disebut Papug Ki ne (nenek perempuan). Karena kuasa Tuhan, sepasang lelampak dapatlah bercakap-cakap, meskipun percakapan mereka hanya bisa didengar dan dimengerti oleh mereka berdua.

Pada suatu malam, Baginda Raja melepas lelampak itu dan meletakkannya di bawah kolong tempat tidur, lelampak itu terutama lelampak jantan, sangat merasa khawatir karena biasanya tikus-tikus akan segera mendatanginya :

“Puqen!” Lelampak jantan memanggil istrinya.
“Ya...!” sahut lelampak betina.
“Jika begini terus keadaannya setiap malam, dan tikus-tikus yang kelaparan itu, pada akhirnya pasti akan memangsa kita! Mari kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pencipta agar kita berdua dijadikan sepasang tikus!”
“Jika begitu maumu, aku menurut saja suamiku!” Jawab istrinya.
“Baik, mari kita berdoa bersama-sama agar Tuhan menjadikan kita sepasang tikus, dan tikus-tikus yang lainnya tentu tidak akan berani mengganggu kita lagi, istriku! Dan dengan demikian, semua sisa-sisa makanan yang ada di dapur istana tentu akan kita kuasai berdua.”

Sepasang lelampak itu pun lalu berdoa kepada Tuhan Pencipta semesta agar dirinya dijadikan sepasang tikus :

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua sepasang tikus......!”
Atas kuasa Tuhan, sepasang lelampak itu kini berubah menjadi dua ekor tikus yang besar. Sepasang tikus besar itu sangat disegani dan ditakuti oleh tikus-tikus lainnya yang tubuhnya lebih kecil dari mereka berdua. Apabila tikus-tikus lain mencari mkan di ruang dapur istana, mereka berdua lalu mengejarnya, begitulah kejadian setiap harinya. Hal tersebut membuat Baginda Raja yang sedang tidur dengan permaisurinya tentu menjadi merasa terganggu sekali dengan suara gaduh yang diakibatkan oleh tikus-tikus yang saling berkejaran itu. Oleh karena itu Baginda Raja pun mengutus pengawalnya untuk mencari dan memelihara beberapa ekor kucing yang berani menangkap dan memangsa tikus-tikus yang ada di dalam istana.

Para pengawal pun segera melaksanakan perintah Sang Baginda Raja. Dalam waktu tak berapa lama beberapa pengawal telah mendapatkan beberapa ekor kucing pejantan yang cukup ganas untuk menangkap dan memangsa tikus-tikus yang ada dalam istana yang sudah mengusik ketenangan tidur Sang Baginda Raja. Kucing-kucing itu pun segera dilepas pengawal. Kucing-kucing itu segera mencari tikus-tikus baik yang berada di dapur, di kamar, bahkan di atas loteng, semua dikejar, ditangkap, lalu dimangsanya. Hal ini membuat sepasang tikus jelmaan lelampak Baginda Raja menjadi khawatir dan ketar-ketir hatinya. Berkatalah sang tikus pejantan kepada istrinya :

“Puqen,  istriku! Sungguh aku khawatir dan takut sekali dengan kucing-kucing istana yang teramat ganas-ganas itu. Lambat-laun kita tentu kita pun akan menjadimangsanya juga. Bagaimana jika kita memohon lagi kepada Tuhan agar kita dijadikan sepasang kucing saja?!” Berkata tikus jantan kepada istrinya.
“Ya, suamiku aku menurut saja!” Jawab istrinya sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
“Jika demikian, mari kita berdoa bersama-sama dan semoga Tuhan mengabulkan doa kita menjadi sepasang kucing!”

Kali ini Tuhan pun masih mengabulkan doa mereka. Sepasang tikus itu kini telah menjadi sepasang kucing. Sepasang kucing jelmaan itu menyerang semua kucing-kucing istana hingga mereka kucar-kacir dibuatnya karena kalah tangkas dan pula kalah besar tubuhnya. Hal ini telah membuat sang Baginda Raja teramatlah senang hatinya, karena tak ada lagi tikus-tikus yang mengganggu tidur Sang Baginda Raja.

Sejak itu, sepasang kucing jelmaan lelampak Sang Raja itu acapkali ke luar-masuk kamar Sang Baginda Raja bahkan menjadi binatang kesayangannya. Karena bulunya yang lembut dan halus berwarna putih bersih, dan ekornya yang panjang itu telah membuat permaisuri termatlah suka dan sangat menyayanginya.

Akan tetapi ternyata masih ada saja yang menggelisahkan hati sepasang kucing jelmaan lelampak raja itu. Jika Sang Baginda Raja pergi berburu, yang selalu diajaknya serta menemani Sang Baginda adalah anjing berburunya. Hal itulah yang membuat sepasang kucing jelmaan itu merasa iri. Mereka beranggapan menjadi anjing pemburu menemani sang Baginda Raja tentu lebih enak.

Mereka pun kembali bersepakat untuk kembali berdoa memohon kepada Tuhan agar dijadikan sepasang anjing pemburu Sang Baginda Raja. Permohonan dan doa mereka pun masih dikabulkan Tuhan. Kini keduanya telah menjadi sepasang anjing pemburu sang sangat gagah. Mereka acapkali diajak menemani Sang Baginda Raja pergi berburu ke hutan Sekaroh.

Suatu ketika mereka berhasil menangkap dua ekor kijang besar. Kijang itu digigitnya kuat-kuat dengan taringnya, sang Raja melepaskan anak panahnya, dan kijang itu jatuh tergeletak di tanah. Betapa senangnya hati Baginda Raja. Baginda pun memberi daging menjangan kepada sepasang anjing pemburu kesayangannya itu.

Setelah sekian lama mereka menjadi sepasang anjing pemburu, mereka pun mulai bosan dan mengeluh karena kesempatan untuk ke luar kandang hampir tidak ada kecuali pada saat diajak berburu oleh Sang Baginda Raja. Mereka terus berada di dalam kandang yang begitu kokoh dan kuat. Mereka merasa terpingit, tidak bebas seperti anjing-anjing lainnya. Sang anjing pejantan pun mengeluh kepada istrinya :

“Istriku, memang... kita terjamin makan dan minum, tapi kebebasan kita tergadai. Lagi pula kalau kita punya kesempatan ke luar, anjing-anjing yang lain sepertinya iri dan mereka jadi memusuhi kita. Jika kita berjumpa dengan manusia ada saja yang memukul kita, melempari kita dengan apa saja bahkan yang tidak senang dengan anjing pun sampai tega membunuhnya!” kata anjing pejantan kepada istrinya seraya menjulur-julurkan lidahnya yang panjang itu, alu kembali melanjutkan kata-katanya:

“Puqen Istriku, bagaimana kalau kita kembali memohon kepada Tuhan agar kita dijadikan manusia dan menjadi raja. Bukankah Sang Baginda Raja sudah tua dan sudah terlalu lama memerintah? Oleh karena itu, sebaiknya marilah bersama-sama kita memohon kepada Tuhan agar kita menjadi manusia. Setelah itu kita dirikan kerajaan baru di tempat lain, yang lebih besar dan lebih megah dari kerajaan ini.”    

Sebagaimana biasa istrinyapun turut saja dengan apa yang menjadi keinginan suaminya. Mereka pun kembali berdoa memohon kepada Tuhan agar diri mereka dijadikan manusia. Tuhan pun masih tetap mengabulkan doa dan permohonannya itu. Mereka pun kini telah berubah menjadi sepasang suami istri.

Di suatu tempat mereka mulai berupaya mewujudkan cita-citanya mejadi raja besar menguasai seluruh Bumi Lombok. Mereka membangun sebuah istana nan megah. Banyak orang menjadi pengikutnya. Keberadaan kerajaan baru itu sampai juga ke telinga Baginda Raja sebelumnya yang mendengar desas-desus bahwa kerajaan itu akan menyerangnya.

Baginda Raja kemudian memerintahkan untuk menyerang lebih dulu sebbelum diserang oleh bala tentara Papug Mame. Akibat serangan yang mendadak itu, kerajaan Papuq Mame menjadi kacau balau, pasukannya kacau-balau, tercerai-bberai melarikan diri. Untunglah Papuq Mame tidak sampai terbunuh. Ia dan istrinya bersembunyi di hutan menyelamatkan diri.

Papuq Mame menjadi sakit hati karena kekalahannya itu. Istrinya menyarankan sebaiknya mereka menyamar sebagai orang biasa dan mengabdi kepada kerajaan yang lama. Akan tetapi sang suammi tak menyetujui usul itu. Ia malah mendesak istrinya agar kembali berdoa dan memohon kembali kepada Tuhan agar diri mereka dijadikan Tuhan, mereka pun berdoa :

“Ya, Tuhan..., jadikanlah kami sepasang Tuhan!” Akan tetapi begitu kata Tuhan selesai diucapkan, seketika Papuq Mame dan istrinya berubah kembali ke asalnya semula yaitu menjadi sepasang lelampak (sandal yang terbuat dari kulit kerbau).

Permintaan mereka untuk menjadi Tuhan memang sangat keterlaluan sekali. Akibatnya mereka jadi kualat dan merugi bagi dirinya sendiri.

Demikianlah dongeng dari Nusa Tenggara Barat (Lombok) yang memberi pelajaran kepada kita bahwa orang yang tamak akan mendapatkan balasan setimpal akibat ketamakkan dan keserakahannya. Suatu keberhasilan hendaknya diperoleh melalui kerja keras, bukan dengan berkhayal.

S U M B E R  :
Yudhistira,
Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
Penerbit “DELIMA” Solo 2009   

Senin, 06 Agustus 2018

Mpu Prapanca : "KAKAWIN NAGARAKERTAGAMA" PUPUH 10

Blog Sita : "SASTRA NUSANTARA"
Selasa, 07 Agustus 2018 - 08:12 WIB
 
Image "Logo Majapahit" ( Foto : SP )
Logo Majapahit

“KAKAWIN NAGARAKERTAGAMA”
PUPUH 10 ( 1 - 4 )
PISOWANAN (2)

TRANSKRIPSI
TERJEMAHAN
1
warna warna ni sa manakil irika witãna,
mantrī wŗddha parãryya len para pasaguhan sakaparӗk,
tan sah raga tumӗṅgun uttama ni sa marӗ wӗki pãnuh.
1
Beraneka macam mereka yang datang menghadap di Balai Witana tak henti-henti,
Para menteri, pejabat dan para bangsawan serta para cendikiawan berdatangan,
Juga lima kelompok pejabat tinggi di Wilwatikta yaitu mapatih, demung, kanuruhan,
Serta rangga dan tumenggung utama, yang telah akrab di istana.

2
Kweh ni wešma puri kemantryan amãtya ri sanagara,
doni bhãșa parãpatih para dӗnuṅ sakãn apupul,
aṅhiṅ saṅ jutu niṅ watӗk paṅalasan mahiṅan apagӗh,
paῆcãkweh nira mantrya nindira rumkşa kãryya ri dalӗm.
2
Banyaknya wisma tempat tinggal para menteri di kerajaan,
Tujuan utama dalam pembahasan para patih, demung serta semua yang berkumpul,
Hanya para petinggi Pengalasan yang tetap teguh, kelima menteri mulia yang harum namanya dan perkasa menjaga dan mengabdi pada raja.

3
Ndan sakșattriya len bhujaga rӗsi wipra yapwan umarӗk ,
kãne hb ni ašoka muw u hiri i witãna maadӗk,
dharmmãdhyakșa kalih lawan sa  upapatti sapta madulur,
 sa tuhwãryya lӗkas paaran ãryya yukti satirun.
3
Dan sang bangsawan lagi pujangga, resi, dan wipra jika datang menghadap,
Di sana di bawah naungan pohon asoka, ada di sisi samping Balai Wisma,
Dan dua pengawas agama serta tujuh pejabat kraton yang membantu,
Bangsawan dan petinggi kerajaan tingkah lakunya disebut arya, pantas dijadikan teladan.




P u s a t a k a :
Mpu Prapanca,
“Kakawin Nagaraketagama”
Teks dan terjemahan:
Damaika Saktiani, dkk
Penerbit:
NARASI Yogyakarta 2018