Kamis, 18 Juni 2015

CATATAN PUISI BULAN JUNI 2015 Bag Ke:

“MANTRA AJIKU PANCASILA SAKTI”
Karya: Ki Slamet 42

Aku miliki lima pusaka mantra aji Pancasila sakti
Yang kokoh bersemayam di jantung sang Rajawali
Kepakkan sayap Garuda mengayomi bumi pertiwi
Gebyarkan nilai budaya ramah sumeringah negeri
Yang mampu mengguncang seluruh persada bumi

Mantraku digjaya perkasa nan sakti mandraguna 
Garuda Pancasila sakti yang bhineka tunggal ika
Yang dijadikan dasar Negara Republik Indonesia
Di dalam berupaya membangun negeri Nusantara
Membangun bangsa yang berdaulat dan merdeka

Mantra ajiku cuma satu hanya Garuda Pancasila
Yang  sayapnya  panjang terbentang seluas dunia
Bunyi gaung suaranya getarkan alam marcapada
Yang kesaktiannya terbukti ampuh jaya kawijaya
Jadi pedoman bermasyarakat berbangsa bernegara

Berkiprah di  dalam  aktifitas perilaku Ketuhanan
Berkiprah di dalam aktifitas bangun Kemanusiaan
Berkiprah dalam aktifitas  bangun rasa Persatuan
Berkiprah dalam aktifitas bangun jiwa Kerakyatan
Berkiprah di dalam aktifitas bangun rasa Keadilan

Bumi Pangarakan, Bogor
Selasa, 02 Juni 2015 – 18:03 WIB



 
“GETAR-GETAR CINTA YANG TAK MAU SIRNA”
Karya: Ki Slamet 42

Ada getar-getar cinta berdetak keras di dalam dada
Berdenyut-denyut tak pernah susut terus bergelora
Ketuk irama nada melodi cinta kidung duka nestapa
Tentang kenangan lama cerita pupusnya rasa asmara
Yang tak pernah terwujud nyata di alam marcapada
Yang terus saja tak mau henti mengoyak relung jiwa

Kucoba melupakan segala kenangan cinta bersamamu
Menyepi bermesu diri kembara ke alam imajinasi semu
Layang kembara ke alam kama-kama bayangkan dirimu
Menapak tilas alas Parigi mendengkur di hutan bambu
Namun, gelora rasa merindu semakin terasa menggebu
Lutfia bayang wajahmu selalu saja datang mengganggu

Sungguh, getaran-getaran cinta ini telah membelenggu
Begitu kuat melekat ketat mengikat daya pikir rasaku
Hingga jiwa dan raga rasa tersiksa dalam neraka kalbu
Terasa sakit, pedih, perih bagai dikoyak-koyak sembilu   
Padahal sudah tiga puluh delapan tahun telah berlalu
Namun kenangan itu tak jua mau sirna dari ingatanku

Kini aku sadari, kehidupan adalah sketsa garis warna
Lukisan  semesta karya, Tuhan  Sang Maha Pencipta
Yang oleh keadilan-Nya, karena kasih dan sayang-Nya
Setiap orang miliki garis hidup, memiliki warna-warna
Yang menumbuhkan memunculkan macam romantika
Atas ketentuan dan seizin dari Tuhan Yang Maha Esa

Bumi Pangarakan, Bogor
Senin, 01 Juni 2015 – 22:57 WIB  


“AKU MASIH TAK BISA MELUPAKANMU”
Karya: Ki Slamet 42

Lutfia, hingga kini aku masih tak bisa melupakanmu
Kenangan cinta, yang adalah segalanya tentang kita
Masih saja mengoyak, mencengkeram  kuat di jiwa
Semakin terasa pedih,  lara merindu-rindu jadi satu
Aku masih tak bisa tepis semua kenangan cinta kita
Karena rasa kasmaran itu terus saja getarkan kalbu

Lutfia, aku masih terbayang, dan terkenang-kenang
Di saat kita saling gamitan tangan di sepanjang jalan
Ketika Menuju pesantren Darunnajah di Kebayoran
Dan,  di saat wajahmu terkulai lembut penuh manja
Di saat gerai rambut ikal hitam dikerudung putihmu
Menelusup gelitik dadaku yang gelorakan rasa rindu

Dan, kedua mata sendu kita pun saling bertatapan
Tetes-tetes bening air matamu merayap perlahan
Membasahi  kedua pipimu  yang binar kemerahan
Membasahi kerudung putih suci yang gemerlapan
Karena disinari sang mentari berwarna keperakan
Yang di saat itu, cahayanya  terasa panas di badan

Panasnya sinar Surya yang  menembus dalam dada
Memahat ukiran  kenangan lama tentang kisah kita
Abadi nan lestari menghias indah dalam relung jiwa
Dan kenangan itu,  yang adalah tentang cerita cinta
Masih terus saja gubyah-uyah,  membelenggu jiwa
Dan ,  aku masih juga tak bisa untuk melupakannya

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 08 Februari 2014 – 16:19 wib
Revisi :
Selasa, 02 Juni 2015 – 07:51 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar