Jumat, 12 Februari 2016

PUISI-PUISI BULAN JANUARI 2016 Karya : Ki Slamet 42

Sastra Nusantara
Sabtu, 13 Febuari 2016 - 06:54 WIB

Malam Tahun Baru 2016

“GELIAT MALAM TAHUN BARU 2016”
Karya : Ki Slamet 42

Ketika sendiri saja dalam kamar yang gelap gulita
Mesu diri ‘ngeraga sukma lepaskan jiwa dari raga
Maka kembaralah ke seluruh negeri  naik Garuda
Melayang di angkasa menatap segala geliat bangsa
Di seluruh negeri yang kononlah makmur sentosa

Maka kepak lebar sayap garuda gemuruh suaranya
Buka tabir selimut buana topeng wajah nusantara
Yang pungkas giat hidupan masyarakat berbudaya
Saat malam tahun baru merayapi semua kota-kota
Darilah Sabang  hingga sampai Merauke di Papua

Aku coba tundukkan kepala menataplah ke bawah
Nampak manusia di semua kota begitu limpah ruah
Sambut tahun baru dengan hampar hiburan meriah
Bersuka mewah-mewah habiskanlah miliaran rupiah
Meski ada yang susah  kesenangan musti ditumpah

Bunyi petasan mercon terompet klakson kendaraan
Terasalah begitu memekakkan telinga kiri dan kanan
Warna-warni kembang api di langit penuh keindahan
Bagaikan lukisan yang hiasi gedung-gedung pameran
Menyebar merona  pancarkan romantika keindahan

Di hotel-hotel mewah banyaklah para hidung belang
Berasyik-masyuk dengan wanita-wanita  jelita jalang
Tiada peduli seberapa banyakah mengeluarkan uang
Yang penting gelora birahinya tersalur secara lapang
Sedang di tempat-tempat ibadah sunyi nan lengang
 
Saat kelompok musik beraksi di panggung lapangan
copet gerayang saku penonton dompetnya kecurian
Sebab asyik goyang nikmati irama musik dangdutan
Sementara polisi sibuk mengatur lalu lintas di jalan
Yang begitu padat dengan macam jenis kendaraan

 Lautan manusia berjubel saling berdesak-desakkan
 Saling senggolan saling sikutan bahkan berkentutan
Pedagang terompet sedikit paksa jajakan dagangan
Mereka saling bersaing harga pun dijatuhturunkan
Padahal waktu belumlah malam masih rayap perlahan

Gempita malam tahun baru gemuruh luruh menyergap
Lupakan haru lupakan belenggu dalam tidur yang lelap
Dari kasus-kasus korupsi yang masih belum terungkap
Yang dilakukan oleh manusia berwajah topeng rangkap
Semua diraup, disaup, dihirup  dimakan dengan lahap

Walau pun berpendidikan tinggi bisanya cuma mengerat
cari siasat agar selamat dari kasus hukum yang menjerat
Dialah tikus-tikus rakus di parit kotor dia itu bertempat
Dia para pejabat bejat, yang suka mengerat uang rakyat
Pandai rubah diri, rubah wajah dan mahir pula bersiasat

Sementara di desa-desa terpencil masih banyak masyarakat
 Tak memiliki tanah, tak memiliki rumah, hidupnya melarat
Apa lagi ‘tuk menggarap kebun dan sawah yang bersyarat
Bertahan hidup  hanya dari kerajinan bambu yang dibuat
Pun kemudian dijual di pasar berjalan kaki jauhlah sangat

Jika malam hari tiada penerang cuma pelita kecil menyalak
Dan, sumber apinya pun  diolah darilah  buah pohon jarak
Oleh karena tak sanggup lagi untuk membeli seliter minyak
Sedang harga-harga kebutuhan pangan pun naik beranjak
Tiada lagi mau turun sampailah makan jadi terasa terselak


Begitulah sisi kehidupan di negeri yang konon kata kaya
Subur dan makmur gemah ripah damai aman nan sentosa
Negeri yang indah nian bagaikan zamrud di khatulistiwa
Yang tongkat kayu dan batu saja bisa jadi tumbuh rupa
Tapi perbedaan hidup nyata antara si miskin dan si kaya

Sementara rasa persatuan antar sesama tak jelas arahnya
Terkoyaklah oleh perang antar warga suku bahkan agama
Belum lagi tawuran antar pelajar yang seakan jadilah gaya
Semoga di tahun dua ribu enam belas ada perubahan nyata
Dan, Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin berjaya
Semoga...

Bumi Pangarakan, Bogor
Jumat, 01 Januari 2016 - 05


Sita Rose
MENATAP BAYANG-BAYANG
Karya : Ki Slamet 42

Sumeringahmu nan lembut tutur sapamu
Gerai rumbaian hitam panjang rambutmu
Bening nan tajam pancaran sinar matamu
Luluhkan hati  hingga larut  dalam rasaku

Dan kedua mata menghampar melanglang
Menatap nanar  selintasan bayang-bayang
Yang tiada mahu sirna terus membentang
Merajut kembali memori yang lama hilang

Hari-hari terasa nian kulalui teramat sepi
Desir-desir angin malam terpa relung hati
Menyentuh menyapa bayang-bayang sunyi
Terus gelinyang di mata tak jua mau pergi

Mataku tak jemu-jemu menatap bayangmu
Yang masih mengajak aku bersenda gurau
Mengukir indah kisah kasih kita masa dulu
Tertera bercerita menghias di relung kalbu

Pangarakan, Bogor
Sabtu, 17 Januari 2016


“M E L A N K O L I S”
Karya: Slamet Priyadi

Aku sudah lama mengerti dan memahamimu
Dengan  kepribadianmu yang  melankolis itu
Karena itu aku pun apa adanya menerimamu
Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu

Aku sangat suka kau nampak begitu anggun
Berpenampilan pendiam meski suka melamun
Berwajah cantik menarik pun berkata santun
Hidup teratur sopan dan bersikap menuntun

Konsep pikirmu jelas tanda kau wanita cerdas
Pandai bergaun, sedikit pun tiada ada berbias
Pandai atur keuangan meski dalam pas ngepas
Pandai menata ruang mengacu keindahan khas

Aku amat suka  kau berkepribadian melankolis
Meski ingin menang sendiri  dan bersikap egois
Tak suka kelakar senang bertengkar dan nangis
Emosional  merasa paling benar  bahkan histris

Tapi bagiku kekuranganmu adalah kelebihanmu
Segala yang ada pada drimu  jiwamu dan ragamu
Semuanya aku suka dan aku teramatlah suka itu
Karena kau seutuhnya sudahlah menjadi milikku


Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 17 Januari 2014 – 02:32 WIB



“GITA BALA SANG NARKOBA”
Karya : Ki Slamet 42

Gita bala sang narkoba  tembang jagad raya
Melantunkan irama nan indah kidung buana
Geliatkan alunan untaian melodi menggema
Tebar-pancarkan merahnya  merah suasana
Satu pertanda nyata  alam ini telah dikuasa

Hujan sang Indra pun melebat di bumi loka
Basahi sang Pertiwi yang tak henti-hentinya
Deras-lebatkan kucuran air mata duka lara
Mengguyur sepanjang waktu goreskan luka
Menguak dendam pati yang tiada mau sirna

Kalamakara prajurit sejati perisainya petaka
Tiada mampu biaskan gema lara membahana
Yang belenggu seluruh isi alam jiwa dan raga
Yang masih terbius kepincut sang dara-dara
Bawa virus-virus haus nyawa kejinya narkoba

Dan, korbanpun berjatuhan meregang nyawa
Tanpa bisa langlang kembara di alam bahagia
Sebab mereka semua tewas dalam usia muda
Menjadilah santapan virus-virus haus nyawa
Keganasan vampir-vampir narkoba pemangsa

Utankayu Selatan
 24 Januari 2016 – 00:33 WIB

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar